Cara menulis jurnal ilmiah yang benar sebenarnya bukan soal bakat menulis, melainkan soal mengikuti urutan kerja yang sudah terbukti. Banyak dosen dan mahasiswa gagal bukan karena penelitiannya lemah, tetapi karena naskah disusun dengan urutan yang salah, tidak mengikuti template jurnal tujuan, dan tidak pernah menyatakan kebaruannya secara eksplisit. Panduan ini membedah sembilan langkah menulis artikel ilmiah secara berurutan, lengkap dengan alokasi jumlah kata per bagian, contoh kalimat siap pakai, daftar kesalahan yang paling sering membuat naskah ditolak, serta proses submit dan review sampai artikel Anda benar-benar terbit.
Ringkasan Cepat
Secara ringkas, cara menulis jurnal ilmiah dilakukan dalam sembilan langkah: (1) menentukan topik dan celah kebaruan, (2) melakukan studi literatur terarah, (3) menulis Metode, (4) menyajikan Hasil, (5) menulis Pembahasan, (6) menulis Pendahuluan, (7) menulis judul, abstrak, dan kata kunci, (8) merapikan sitasi dan daftar pustaka, lalu (9) memilih jurnal tujuan dan melakukan submit. Urutannya sengaja tidak dimulai dari Pendahuluan — bagian itu justru paling sulit ditulis sebelum Anda tahu persis apa temuan Anda.
Table of Contents
ToggleSebelum masuk ke detail, pahami dulu keseluruhan alurnya. Menguasai cara menulis jurnal ilmiah dimulai dari memahami peta kerjanya secara utuh. Tabel berikut memetakan sembilan langkah cara menulis jurnal ilmiah beserta keluaran yang harus Anda hasilkan di setiap tahap dan perkiraan waktu pengerjaan bagi penulis yang datanya sudah siap.
| Langkah | Yang Dikerjakan | Keluaran Nyata | Estimasi Waktu |
|---|---|---|---|
| 1. Topik & kebaruan | Menyempitkan tema, membaca 10–15 artikel terbaru, merumuskan celah | Satu kalimat pertanyaan penelitian + satu kalimat klaim kebaruan | 3–7 hari |
| 2. Studi literatur | Pencarian sistematis, penyaringan, pengelolaan referensi | 30–60 referensi tersimpan rapi di reference manager | 1–2 minggu |
| 3. Metode | Menjelaskan desain, populasi, instrumen, prosedur, analisis | Draf Metode 700–1.200 kata | 2–4 hari |
| 4. Hasil | Menyusun tabel dan gambar, menarasikan temuan tanpa tafsir | Draf Hasil + 3–6 tabel/gambar final | 3–5 hari |
| 5. Pembahasan | Menafsirkan, membandingkan dengan literatur, menyatakan implikasi | Draf Pembahasan 1.200–2.000 kata | 1–2 minggu |
| 6. Pendahuluan | Membangun latar, celah, dan tujuan dengan model CARS | Draf Pendahuluan 800–1.200 kata | 3–5 hari |
| 7. Judul, abstrak, kata kunci | Memadatkan seluruh artikel ke 150–250 kata | Judul final + abstrak + 3–5 kata kunci | 1–2 hari |
| 8. Sitasi & daftar pustaka | Menyeragamkan gaya sitasi, memverifikasi setiap entri | Daftar pustaka konsisten, seluruh sitasi terverifikasi | 1–2 hari |
| 9. Jurnal tujuan & submit | Memeriksa ruang lingkup, akreditasi, template, cover letter | Naskah sesuai template + bukti submit | 3–7 hari |
Estimasi waktu berlaku untuk penulis yang datanya sudah terkumpul dan dianalisis. Jika penelitian lapangan belum selesai, tambahkan waktu pengumpulan data.
Kenapa urutannya terbalik dari struktur artikel?
Struktur artikel yang dibaca orang dimulai dari Pendahuluan, tetapi urutan menulis yang efisien dimulai dari Metode. Alasannya sederhana: Metode dan Hasil bersifat faktual, Anda tinggal melaporkan apa yang sudah terjadi. Pendahuluan justru bagian paling argumentatif karena harus meyakinkan pembaca bahwa penelitian Anda perlu ada — dan Anda baru bisa meyakinkan itu setelah tahu persis apa yang Anda temukan.
Kesalahan paling mendasar dalam cara menulis jurnal ilmiah adalah memperlakukan artikel jurnal seperti skripsi yang dipendekkan. Padahal keduanya ditulis untuk pembaca, tujuan, dan standar penilaian yang berbeda. Memahami perbedaan ini akan menghemat berminggu-minggu revisi Anda.
| Aspek | Artikel Jurnal Ilmiah | Skripsi / Tesis | Makalah Kuliah |
|---|---|---|---|
| Pembaca sasaran | Komunitas peneliti bidang terkait | Dosen penguji | Dosen pengampu |
| Tujuan utama | Menyampaikan satu kontribusi baru | Membuktikan kompetensi meneliti | Menunjukkan pemahaman materi |
| Panjang | 4.000–8.000 kata | 15.000–40.000 kata | 1.500–5.000 kata |
| Porsi teori | Ringkas, hanya yang dipakai berargumen | Sangat luas, satu bab penuh | Dominan |
| Kebaruan | Wajib dinyatakan eksplisit | Diharapkan, tidak selalu wajib | Tidak diwajibkan |
| Penilai | Editor + peer reviewer anonim | Dosen pembimbing dan penguji | Dosen pengampu |
| Konsekuensi ditolak | Naskah dikembalikan, cari jurnal lain | Revisi dan sidang ulang | Nilai turun |
Implikasi praktisnya bagi cara menulis jurnal ilmiah Anda: jika Anda mengubah skripsi menjadi artikel, jangan sekadar memotong halaman. Pilih satu pertanyaan penelitian paling kuat, buang variabel yang tidak mendukung pertanyaan itu, pangkas landasan teori sampai tersisa yang benar-benar dipakai berargumen, lalu perdalam pembahasannya. Dalam praktik, cara menulis jurnal ilmiah dari skripsi hampir selalu berarti menulis ulang, bukan meringkas.
Kerangka dasar cara menulis jurnal ilmiah hampir selalu sama di jurnal nasional maupun internasional, yaitu kerangka IMRAD: Introduction, Methods, Results, and Discussion. Yang jarang dijelaskan artikel panduan lain adalah berapa porsi kata yang wajar untuk setiap bagian. Tanpa patokan ini, penulis pemula biasanya menulis Pendahuluan sepanjang tiga halaman dan Pembahasan hanya setengah halaman — komposisi yang hampir pasti dikomentari reviewer.
Tabel berikut merangkum porsi tiap bagian yang lazim dipakai ketika menerapkan cara menulis jurnal ilmiah pada artikel penelitian empiris.
| Bagian | Porsi Wajar | Perkiraan Kata (naskah 6.000 kata) | Pertanyaan yang Harus Terjawab |
|---|---|---|---|
| Judul | — | 12–15 kata | Apa yang diteliti, pada siapa, dengan pendekatan apa? |
| Abstrak | — | 150–250 kata | Masalah, metode, temuan utama, implikasi |
| Pendahuluan | 15–20% | 900–1.200 kata | Kenapa penelitian ini perlu ada? |
| Metode | 15–20% | 900–1.200 kata | Bagaimana orang lain bisa mengulang penelitian ini? |
| Hasil | 20–25% | 1.200–1.500 kata | Apa yang ditemukan, tanpa ditafsirkan? |
| Pembahasan | 25–35% | 1.500–2.100 kata | Apa artinya temuan itu dan bagaimana posisinya? |
| Kesimpulan | 5% | 250–350 kata | Apa jawaban akhir dan apa langkah berikutnya? |
| Daftar pustaka | — | 25–60 entri | Apakah semua sitasi dalam teks tercantum? |
Porsi ini adalah patokan umum untuk artikel penelitian empiris. Artikel kajian literatur, studi kasus, dan artikel konseptual memiliki komposisi berbeda.
Uji cepat komposisi naskah
Jika Pembahasan Anda lebih pendek daripada Pendahuluan, ada masalah serius dalam komposisi naskah Anda. Pembahasan adalah tempat kontribusi ilmiah Anda benar-benar terlihat. Reviewer menilai naskah terutama dari kualitas bagian ini, bukan dari banyaknya teori yang Anda kutip di depan.
Langkah pertama dalam cara menulis jurnal ilmiah adalah menyempitkan topik sampai ia bisa dijawab dalam satu penelitian. Topik seperti “pengaruh media sosial terhadap remaja” terlalu luas untuk satu artikel. Persempit dengan menambahkan pembatas: populasi spesifik, konteks geografis, rentang waktu, variabel yang terukur, dan pendekatan metodologis.
Contoh Penyempitan Topik
Bagian tersulit dari cara menulis jurnal ilmiah bagi pemula biasanya ada di sini. Kebaruan tidak perlu berarti menemukan sesuatu yang belum pernah ada di dunia. Dalam praktik penelitian, celah biasanya muncul dari salah satu dari lima pola berikut.
| Jenis Celah | Penjelasan | Kalimat Penanda dalam Naskah |
|---|---|---|
| Celah populasi | Fenomena sudah diteliti, tapi belum pada populasi Anda | “Studi serupa belum dilakukan pada …” |
| Celah konteks | Sudah diteliti di negara/sektor lain, belum di konteks Anda | “Sebagian besar studi berasal dari konteks …” |
| Celah metode | Pertanyaan sama, pendekatan analisis berbeda | “Pendekatan kuantitatif mendominasi, sementara …” |
| Celah temuan | Hasil penelitian terdahulu saling bertentangan | “Temuan yang ada masih belum konsisten …” |
| Celah teori | Variabel/mekanisme penghubung belum diuji | “Mekanisme yang menjelaskan hubungan ini belum diuji …” |
Langkah berikutnya sering dilewati orang yang belajar cara menulis jurnal ilmiah. Setelah menemukan celah, tuliskan klaim kebaruan Anda dalam satu kalimat dan simpan di dokumen terpisah. Kalimat inilah yang nanti muncul di akhir Pendahuluan, di abstrak, dan di cover letter. Jika Anda tidak bisa menuliskannya dalam satu kalimat, artinya celahnya belum cukup jelas.
Tahap kedua dalam cara menulis jurnal ilmiah adalah studi literatur, dan studi literatur yang baik dilakukan dengan strategi pencarian yang bisa dijelaskan, bukan dengan mengetik satu kata kunci di mesin pencari lalu mengunduh apa saja yang muncul. Susun kombinasi kata kunci dengan operator Boolean, lalu jalankan pada beberapa basis data sekaligus.
Contoh String Pencarian
("literasi digital" OR "digital literacy") AND ("guru" OR "teacher") AND ("sekolah dasar" OR "primary school") NOT ("perguruan tinggi")
| Sumber | Kegunaan Utama | Catatan Penting |
|---|---|---|
| Google Scholar | Penelusuran awal yang luas | Cakupan besar tetapi kualitas tidak tersaring; verifikasi ulang penerbitnya |
| Portal SINTA | Menelusuri artikel dan jurnal nasional terakreditasi | Sekaligus untuk memeriksa status akreditasi jurnal tujuan |
| Garuda | Repositori artikel ilmiah Indonesia | Berguna untuk mencari rujukan berbahasa Indonesia |
| Scopus / Web of Science | Rujukan internasional bereputasi | Akses biasanya melalui langganan kampus |
| DOAJ | Jurnal akses terbuka yang terkurasi | Membantu menyaring jurnal yang kredibel |
Disiplin yang satu ini sering diabaikan padahal menghemat banyak waktu dalam cara menulis jurnal ilmiah. Gunakan reference manager seperti Mendeley atau Zotero sejak artikel pertama yang Anda baca. Menunda pengelolaan referensi sampai naskah selesai adalah salah satu penyebab paling umum daftar pustaka berantakan. Dengan reference manager, gaya sitasi bisa diubah dari APA ke IEEE hanya dalam beberapa detik ketika Anda memutuskan pindah jurnal tujuan.
Standar Kualitas Referensi
Dalam cara menulis jurnal ilmiah, ukuran keberhasilan bagian Metode hanya satu: apakah peneliti lain di bidang yang sama bisa mengulang penelitian Anda hanya dengan membaca bagian ini. Karena itu, tulis Metode dengan kalimat lampau dan pasif yang lugas, tanpa penjelasan definisi umum yang sudah diketahui pembaca bidang tersebut.
Komponen yang harus ada dalam Metode bergantung pada pendekatan penelitian Anda. Baik pendekatan kuantitatif maupun kualitatif, cara menulis jurnal ilmiah menuntut kelengkapan yang sama pada tujuh komponen berikut.
| Komponen | Penelitian Kuantitatif | Penelitian Kualitatif |
|---|---|---|
| Desain | Eksperimen, survei, korelasional, ex post facto | Studi kasus, fenomenologi, etnografi, naratif |
| Partisipan | Populasi, teknik sampling, jumlah sampel, kriteria inklusi | Informan, teknik pemilihan, jumlah, alasan pemilihan |
| Instrumen | Kuesioner/tes, uji validitas, uji reliabilitas | Pedoman wawancara, observasi, dokumentasi |
| Prosedur | Tahapan pengambilan data dan rentang waktu | Proses masuk lapangan, durasi, cara perekaman |
| Analisis | Uji statistik, perangkat lunak, tingkat signifikansi | Reduksi data, pengodean, penyajian, verifikasi |
| Keabsahan | Uji asumsi klasik bila relevan | Triangulasi, member check, audit trail |
| Etika | Persetujuan etik, informed consent bila melibatkan manusia | Sama, ditambah penjaminan anonimitas informan |
Detail kecil yang sering terlewat
Sebutkan versi perangkat lunak analisis yang Anda pakai, rentang tanggal pengumpulan data, dan jumlah kuesioner yang disebar berbanding yang kembali dan layak diolah. Tiga detail ini sering ditanyakan reviewer dan hampir selalu absen pada naskah penulis pemula.
Aturan tunggal bagian Hasil dalam cara menulis jurnal ilmiah: laporkan, jangan tafsirkan. Kalimat seperti “hal ini menunjukkan bahwa siswa kurang termotivasi” adalah penafsiran dan tempatnya di Pembahasan. Di bagian Hasil, Anda hanya menyampaikan angka, pola, dan temuan apa adanya.
| Bentuk | Dipakai Ketika | Kesalahan Umum |
|---|---|---|
| Tabel | Nilai persis penting dibaca satu per satu | Menyalin ulang seluruh isi tabel ke dalam narasi |
| Grafik | Pola, tren, atau perbandingan lebih penting daripada angka persis | Grafik tiga dimensi yang menyulitkan pembacaan |
| Gambar/foto | Objek visual perlu dilihat langsung | Resolusi rendah dan tanpa keterangan skala |
| Narasi saja | Data hanya terdiri dari dua atau tiga angka | Membuat tabel untuk tiga angka |
Aturan penyajian ini berlaku universal dalam cara menulis jurnal ilmiah. Setiap tabel dan gambar wajib dirujuk dalam teks, diberi nomor urut, dan diberi judul yang bisa dipahami tanpa membaca naskah. Jangan pernah menyajikan data yang sama dua kali dalam bentuk tabel sekaligus grafik — reviewer akan meminta salah satunya dihapus.
Contoh Narasi Hasil yang Benar
Di antara seluruh tahapan cara menulis jurnal ilmiah, Pembahasan adalah bagian yang paling menentukan diterima atau tidaknya naskah Anda, sekaligus bagian yang paling sering ditulis asal-asalan. Agar terstruktur, susun setiap temuan utama dengan lima gerakan berikut secara berurutan.
Mengakui keterbatasan bukan kelemahan
Salah satu kebiasaan keliru dalam cara menulis jurnal ilmiah adalah menyembunyikan keterbatasan karena takut naskah dinilai lemah. Efeknya justru sebaliknya. Reviewer berpengalaman selalu menemukan keterbatasan itu, dan naskah yang tidak menyebutkannya terbaca sebagai naskah yang penulisnya tidak sadar batas klaimnya sendiri. Menyebut keterbatasan secara jujur, lalu menjelaskan mengapa temuan tetap valid dalam batas tersebut, adalah tanda kematangan ilmiah.
Satu prinsip lagi yang wajib dipegang dalam cara menulis jurnal ilmiah: Pembahasan bukan tempat memperkenalkan data baru. Jika ada angka yang belum pernah muncul di bagian Hasil tiba-tiba dibahas di sini, reviewer akan mempertanyakan konsistensi seluruh naskah.
Pendahuluan yang efektif dalam cara menulis jurnal ilmiah bekerja seperti corong: dimulai dari gambaran luas, menyempit ke masalah spesifik, lalu berhenti tepat di pertanyaan penelitian Anda. Kerangka yang paling banyak dipakai untuk ini adalah model CARS (Create a Research Space) yang dikembangkan John Swales, terdiri dari tiga gerakan.
| Gerakan | Isi | Porsi | Fungsi |
|---|---|---|---|
| Gerakan 1: Membangun teritori | Pentingnya topik, konteks, temuan-temuan yang sudah mapan | 30–40% | Meyakinkan pembaca bahwa area ini penting |
| Gerakan 2: Membangun celah | Apa yang belum terjawab, apa yang bertentangan, apa yang terbatas | 30–40% | Menunjukkan ada ruang yang perlu diisi |
| Gerakan 3: Mengisi celah | Tujuan penelitian, pertanyaan penelitian, kebaruan, kontribusi | 20–30% | Menempatkan penelitian Anda di ruang tersebut |
Kesalahan paling sering pada bagian ini adalah Gerakan 1 yang membengkak menjadi bab landasan teori, sementara Gerakan 2 hanya satu kalimat basa-basi seperti “oleh karena itu penulis tertarik meneliti”. Padahal Gerakan 2 adalah alasan naskah Anda layak diterbitkan. Dalam cara menulis jurnal ilmiah yang benar, celah penelitian harus dibangun dengan bukti dari literatur, bukan dengan pernyataan ketertarikan pribadi.
Dalam cara menulis jurnal ilmiah, judul dan abstrak adalah dua bagian yang paling banyak dibaca dan paling menentukan apakah artikel Anda akan disitasi. Keduanya ditulis paling akhir, setelah seluruh isi naskah selesai.
Aturan cara menulis jurnal ilmiah pada bagian judul cukup sederhana. Judul yang baik memuat variabel utama, objek atau populasi, dan bila perlu konteks, dalam 12–15 kata. Hindari kata pembuka yang tidak menambah informasi seperti “studi tentang”, “analisis mengenai”, atau “sebuah tinjauan terhadap”.
Perbandingan Judul
Bagian tersulit dari cara menulis jurnal ilmiah pada abstrak adalah memadatkan ribuan kata menjadi ratusan kata. Abstrak sepanjang 150–250 kata idealnya memuat lima unsur berurutan dengan porsi yang seimbang. Tulis dalam satu paragraf utuh kecuali jurnal tujuan meminta abstrak terstruktur dengan subjudul.
| Unsur | Jumlah Kalimat | Yang Harus Muncul |
|---|---|---|
| Latar & masalah | 1–2 kalimat | Konteks singkat dan celah yang diisi |
| Tujuan | 1 kalimat | Apa yang hendak dicapai penelitian ini |
| Metode | 2–3 kalimat | Desain, partisipan, instrumen, teknik analisis |
| Hasil | 2–3 kalimat | Temuan utama disertai angka kunci |
| Implikasi | 1–2 kalimat | Sumbangan bagi teori atau praktik |
Yang dilarang muncul di abstrak
Untuk kata kunci, pilih tiga sampai lima istilah yang benar-benar dipakai peneliti lain saat mencari topik Anda. Jangan mengulang kata yang sudah ada di judul secara persis, dan hindari frasa terlalu umum seperti “pendidikan” atau “penelitian” yang tidak membantu penemuan artikel Anda.
Dalam cara menulis jurnal ilmiah, ketidakkonsistenan gaya sitasi adalah alasan penolakan administratif yang paling mudah dihindari sekaligus paling sering terjadi. Tentukan gaya sitasi sesuai jurnal tujuan sebelum menulis, bukan setelah naskah jadi.
| Gaya | Umum Dipakai Bidang | Bentuk Sitasi dalam Teks |
|---|---|---|
| APA edisi ke-7 | Pendidikan, psikologi, sosial, ekonomi | (Nugroho & Sari, 2024) |
| IEEE | Teknik, informatika, elektro | [1], [2]–[4] |
| Vancouver | Kedokteran, kesehatan, keperawatan | Superskrip angka urut kemunculan |
| Chicago | Sejarah, humaniora, hukum | Catatan kaki atau penulis-tahun |
| MLA | Sastra dan kajian bahasa | (Nugroho 45) |
Gaya sitasi setiap jurnal dapat berbeda meskipun berada di rumpun ilmu yang sama. Selalu ikuti panduan penulis jurnal tujuan sebagai acuan akhir.
Sebelum menutup tahap ini, jalankan pemeriksaan berikut agar cara menulis jurnal ilmiah Anda tidak gugur di hal-hal administratif.
Pemeriksaan Akhir Daftar Pustaka
Waspadai referensi hasil pembuatan otomatis
Referensi yang dihasilkan alat bantu otomatis kadang tampak meyakinkan tetapi sebenarnya tidak pernah ada — kombinasi nama penulis, judul, dan nomor volume yang tidak nyata. Editor semakin rutin memverifikasi ini dan naskah dengan referensi fiktif langsung ditolak. Buka dan pastikan setiap referensi benar-benar dapat diakses sebelum submit.
Tahap terakhir cara menulis jurnal ilmiah justru berada di luar naskah itu sendiri. Naskah terbaik pun akan ditolak jika dikirim ke jurnal yang ruang lingkupnya tidak cocok. Karena itu pemilihan jurnal sebaiknya dilakukan sebelum naskah dirapikan, bukan sesudahnya — supaya format, panjang, dan gaya sitasi bisa langsung disesuaikan.
| Kriteria | Cara Memeriksanya |
|---|---|
| Kesesuaian ruang lingkup | Baca aims and scope dan tiga artikel terbaru terbitan jurnal tersebut |
| Status akreditasi/indeksasi | Periksa langsung di portal SINTA untuk jurnal nasional; daftar sumber Scopus atau Scimago untuk internasional |
| Keteraturan terbit | Pastikan jurnal terbit rutin dalam dua sampai tiga tahun terakhir |
| Estimasi durasi proses | Lihat riwayat tanggal received dan accepted pada artikel yang sudah terbit |
| Biaya publikasi | Cari halaman article processing charge; biaya yang tidak transparan adalah tanda bahaya |
| Kejelasan dewan editor | Nama, afiliasi, dan rekam jejak editor harus dapat ditelusuri |
Catatan Regulasi & Kebaruan Data
Sistem peringkat jurnal nasional mengalami perubahan. Permendiktisaintek No. 9 Tahun 2026 menghapus peringkat SINTA 5 dan SINTA 6, sehingga struktur peringkat yang berlaku kini SINTA 1 sampai SINTA 4. Karena status akreditasi bersifat dinamis dan dapat berubah setiap periode penilaian, verifikasi selalu peringkat terkini jurnal tujuan Anda langsung di portal resmi sinta.kemdiktisaintek.go.id dan sistem ARJUNA (arjuna.kemdikbud.go.id) sebelum mengirimkan naskah.
| Tahap | Yang Terjadi | Perkiraan Durasi |
|---|---|---|
| Pemeriksaan awal editor | Ruang lingkup, format, kemiripan, kelengkapan berkas | 1–4 minggu |
| Penugasan reviewer | Editor mencari dua atau lebih reviewer bidang terkait | 1–4 minggu |
| Proses telaah sejawat | Reviewer menilai dan memberi rekomendasi | 4–12 minggu |
| Keputusan pertama | Diterima, revisi minor, revisi mayor, atau ditolak | — |
| Revisi penulis | Perbaikan naskah disertai lembar tanggapan poin per poin | 2–6 minggu |
| Penyuntingan & tata letak | Copyediting, proofreading, penomoran halaman | 2–6 minggu |
| Terbit | Artikel memperoleh DOI dan terbit dalam nomor tertentu | — |
Durasi sangat bervariasi antarjurnal. Angka di atas adalah rentang umum, bukan jaminan. Tidak ada pihak mana pun yang dapat menjamin naskah pasti diterima.
Bagian ini jarang dibahas panduan cara menulis jurnal ilmiah lain, padahal di sinilah banyak naskah gugur. Revisi mayor bukan penolakan — sebagian besar artikel yang akhirnya terbit melewati tahap ini. Buat lembar tanggapan berbentuk tabel dengan tiga kolom: komentar reviewer, tanggapan Anda, dan lokasi perubahan dalam naskah. Jika Anda tidak setuju dengan satu komentar, boleh menolak dengan sopan asalkan disertai argumen dan rujukan. Yang tidak boleh adalah mendiamkan komentar tanpa penjelasan apa pun.
Jika Anda ingin memahami peta jurnal nasional dan internasional yang bisa menjadi sasaran naskah Anda, beserta kriteria dan cara memverifikasi setiap pilihan penerbitan, telusuri kumpulan panduan di blog Pusat Publikasi.
Bagian ini yang paling jarang diberikan panduan cara menulis jurnal ilmiah lain, padahal paling sering dibutuhkan. Gunakan pola kalimat berikut sebagai kerangka, lalu isi dengan konteks penelitian Anda sendiri. Jangan menyalinnya mentah-mentah tanpa penyesuaian.
| Bagian | Fungsi Kalimat | Pola Kalimat |
|---|---|---|
| Pendahuluan | Membuka teritori | “Dalam satu dekade terakhir, [fenomena] menjadi perhatian utama dalam kajian [bidang] karena [alasan].” |
| Pendahuluan | Menyatakan celah | “Meskipun sejumlah studi telah menelaah [X], perhatian terhadap [Y] pada konteks [Z] masih terbatas.” |
| Pendahuluan | Menyatakan tujuan | “Penelitian ini bertujuan menguji [hubungan/pengaruh] antara [variabel] pada [populasi].” |
| Metode | Menjelaskan desain | “Penelitian ini menggunakan pendekatan [kuantitatif/kualitatif] dengan desain [desain].” |
| Metode | Menjelaskan sampel | “Sampel berjumlah [n] orang dipilih menggunakan teknik [teknik] dengan kriteria [kriteria].” |
| Hasil | Melaporkan temuan | “Hasil analisis menunjukkan [temuan] dengan nilai [statistik] sebesar [angka].” |
| Hasil | Merujuk tabel | “Rincian distribusi responden disajikan pada Tabel 1.” |
| Pembahasan | Membandingkan | “Temuan ini sejalan dengan [penulis, tahun] yang melaporkan [temuan serupa], namun berbeda dari [penulis, tahun].” |
| Pembahasan | Menjelaskan perbedaan | “Perbedaan tersebut kemungkinan disebabkan oleh [karakteristik konteks/metode].” |
| Pembahasan | Menyatakan keterbatasan | “Penelitian ini terbatas pada [batasan], sehingga generalisasi temuan perlu dilakukan secara berhati-hati.” |
| Kesimpulan | Menutup | “Berdasarkan temuan tersebut disimpulkan bahwa [jawaban pertanyaan penelitian].” |
| Kesimpulan | Mengarahkan lanjutan | “Penelitian selanjutnya disarankan untuk [saran] pada [populasi/konteks lain].” |
Menguasai cara menulis jurnal ilmiah juga berarti mengetahui apa yang harus dihindari. Daftar berikut disusun berdasarkan pola penolakan yang paling sering muncul pada naskah penulis pemula, beserta cara memperbaikinya.
| No | Kesalahan | Akibatnya | Perbaikannya |
|---|---|---|---|
| 1 | Ruang lingkup tidak cocok dengan jurnal | Ditolak editor tanpa masuk telaah sejawat | Baca aims and scope dan tiga artikel terbaru jurnal tersebut sebelum submit |
| 2 | Tidak mengikuti template jurnal | Dikembalikan untuk diperbaiki, proses molor | Unduh template resmi dan tulis langsung di dalamnya |
| 3 | Kebaruan tidak dinyatakan eksplisit | Reviewer menilai artikel tidak berkontribusi | Tulis satu kalimat klaim kebaruan di akhir Pendahuluan |
| 4 | Metode tidak dapat direplikasi | Diminta revisi mayor atau ditolak | Lengkapi desain, sampel, instrumen, prosedur, dan teknik analisis |
| 5 | Hasil dan Pembahasan tercampur | Naskah membingungkan dan dinilai tidak rapi | Pisahkan pelaporan dari penafsiran secara tegas |
| 6 | Pembahasan hanya mengulang Hasil | Dinilai tidak memiliki kedalaman analisis | Terapkan formula lima gerakan pada setiap temuan utama |
| 7 | Referensi usang dan sedikit | Dianggap tidak mengikuti perkembangan bidang | Perbanyak rujukan lima tahun terakhir dari sumber primer |
| 8 | Tingkat kemiripan melebihi ambang | Ditolak otomatis pada pemeriksaan awal | Parafrase dengan pemahaman, bukan penggantian kata, dan sitasi dengan benar |
| 9 | Abstrak tidak memuat hasil | Artikel jarang dibuka pembaca dan jarang disitasi | Pastikan lima unsur abstrak lengkap termasuk angka temuan kunci |
| 10 | Bahasa berantakan dan tidak konsisten | Reviewer kesulitan menilai substansi | Lakukan penyuntingan bahasa terpisah setelah substansi final |
Cara menulis jurnal ilmiah yang benar tidak berhenti pada teknik penulisan. Pelanggaran etika publikasi berdampak jauh lebih berat daripada sekadar penolakan naskah. Artikel yang sudah terbit dapat ditarik kembali, dan catatan penarikan itu melekat permanen pada rekam jejak akademik penulisnya.
Aspek ini melekat pada seluruh proses cara menulis jurnal ilmiah. Banyak jurnal nasional menetapkan ambang kemiripan maksimal 20–25 persen. Namun yang perlu dipahami, angka total bukan satu-satunya penentu. Kemiripan 15 persen yang terkonsentrasi pada satu paragraf utuh tetap dinilai sebagai plagiarisme, sementara kemiripan 22 persen yang tersebar merata pada istilah teknis dan daftar pustaka umumnya dapat diterima. Periksa laporan kemiripan per sumber, bukan hanya persentase totalnya. Perlu diingat pula bahwa mengutip karya Anda sendiri tanpa menyebutkan sumbernya termasuk plagiarisme diri (self-plagiarism).
Kebijakan jurnal mengenai penggunaan AI berkembang cepat dan berbeda-beda. Prinsip yang sudah menjadi konsensus etika publikasi internasional: alat kecerdasan buatan tidak dapat dicantumkan sebagai penulis karena tidak mampu memikul tanggung jawab atas isi naskah, dan penggunaannya untuk membantu penulisan wajib diungkapkan dalam pernyataan naskah. Menggunakan AI untuk mengarang data, hasil, atau referensi merupakan pelanggaran berat yang setara dengan pemalsuan data.
Cara menulis jurnal ilmiah secara kolaboratif juga punya aturannya sendiri. Kriteria kepengarangan yang lazim dipakai mensyaratkan kontribusi substansial pada perancangan penelitian atau pengumpulan dan analisis data, keterlibatan dalam penyusunan atau perbaikan kritis naskah, persetujuan atas versi final, dan kesediaan bertanggung jawab atas keseluruhan isi. Mencantumkan nama yang tidak berkontribusi (gift authorship) maupun menghilangkan nama yang berkontribusi (ghost authorship) sama-sama merupakan pelanggaran etika.
Batas Etis yang Perlu Ditegaskan
Seluruh panduan pada artikel ini ditujukan untuk membantu Anda menulis sendiri artikel Anda. Layanan pendampingan publikasi yang sehat hanya membantu aspek teknis dan administratif — penyuntingan bahasa, penyesuaian template, pemeriksaan kemiripan, pemetaan jurnal tujuan, dan pendampingan proses submit. Layanan yang menawarkan penulisan naskah atas nama Anda (ghostwriting), jual-beli kepengarangan, manipulasi data, atau jaminan pasti terbit adalah pelanggaran etika publikasi dan berisiko membuat artikel Anda ditarik (retracted) serta merugikan rekam jejak akademik Anda secara permanen.
Ini tahap penutup dari seluruh proses cara menulis jurnal ilmiah. Cetak atau salin daftar berikut, lalu periksa satu per satu. Sebagian besar penolakan administratif dapat dicegah hanya dengan menyelesaikan checklist ini secara jujur.
Checklist Pra-Submit Artikel Jurnal Ilmiah
Naskah Sudah Siap, Tapi Bingung Jurnal Tujuannya?
Anda sudah memahami cara menulis jurnal ilmiah sampai tuntas, langkah berikutnya adalah memastikan naskah mendarat di jurnal yang tepat. Tim Pusat Publikasi membantu pemetaan jurnal sesuai bidang dan target akreditasi Anda, penyesuaian naskah ke template jurnal, pemeriksaan kemiripan, hingga pendampingan proses submit dan revisi. Konsultasikan naskah Anda tanpa biaya.
Konsultasi Gratis via WhatsApp
Pendampingan bersifat teknis dan administratif. Naskah, data, dan kepemilikan intelektual tetap sepenuhnya milik penulis.
Cara menulis jurnal ilmiah yang benar bertumpu pada urutan kerja, bukan pada kemampuan merangkai kalimat indah. Mulailah dari Metode dan Hasil yang faktual, bangun Pembahasan sebagai inti kontribusi Anda, lalu tulis Pendahuluan setelah temuan jelas, dan tutup dengan judul serta abstrak yang memadatkan seluruh naskah. Alokasikan porsi kata secara proporsional, nyatakan kebaruan secara eksplisit, dan pastikan Metode Anda dapat diulang peneliti lain.
Di luar isi naskah, dua hal menentukan keberhasilan cara menulis jurnal ilmiah Anda: kesesuaian dengan jurnal tujuan dan kepatuhan pada etika publikasi. Verifikasi status akreditasi jurnal di portal resmi sebelum submit, ikuti template dengan disiplin, dan jangan pernah mengambil jalan pintas yang mengorbankan integritas akademik. Menerapkan cara menulis jurnal ilmiah secara konsisten memang menuntut waktu, tetapi hasilnya berupa artikel yang bertahan sebagai rekam jejak ilmiah Anda selama bertahun-tahun.
Berapa jumlah kata ideal untuk satu artikel jurnal ilmiah?
Tidak ada angka tunggal dalam cara menulis jurnal ilmiah. Untuk jurnal nasional terakreditasi SINTA, panjang naskah umumnya berkisar 4.000–8.000 kata di luar daftar pustaka, sedangkan jurnal internasional sering berada di rentang 5.000–9.000 kata. Angka ini hanya patokan awal: yang mengikat adalah author guidelines jurnal tujuan Anda. Selalu buka halaman panduan penulis jurnal tersebut sebelum menulis satu kalimat pun.
Bagian mana yang sebaiknya ditulis lebih dulu?
Urutan paling efisien dalam cara menulis jurnal ilmiah bukan urutan bacanya. Tulis Metode terlebih dahulu, karena bagian ini paling faktual dan tidak membutuhkan interpretasi. Lanjutkan ke Hasil, lalu Pembahasan. Pendahuluan ditulis setelah Pembahasan selesai agar argumen celah penelitian benar-benar nyambung dengan temuan Anda. Abstrak dan judul ditulis paling akhir.
Apakah mahasiswa S1 boleh mengirim artikel ke jurnal ilmiah?
Boleh, dan cara menulis jurnal ilmiah bagi mahasiswa S1 tidak berbeda dari penulis lain. Sebagian besar jurnal nasional tidak membatasi jenjang pendidikan penulis, yang dinilai adalah kualitas naskah. Yang perlu diperhatikan adalah beberapa jurnal mensyaratkan keterlibatan dosen pembimbing sebagai penulis pendamping, dan penulis korespondensi biasanya harus memiliki afiliasi institusi yang jelas.
Berapa persen tingkat kemiripan (similarity) yang masih aman?
Banyak jurnal nasional menetapkan ambang maksimal 20–25 persen dengan syarat tidak ada satu sumber pun yang menyumbang kemiripan besar. Namun angka bukan satu-satunya ukuran: kemiripan 15 persen yang terkonsentrasi pada satu paragraf utuh tetap dianggap plagiarisme. Periksa laporan kemiripan per sumber, bukan hanya angka totalnya.
Bolehkah menggunakan AI dalam menulis artikel jurnal ilmiah?
Kebijakan setiap jurnal berbeda dan terus berkembang, sehingga cara menulis jurnal ilmiah pun perlu menyesuaikan. Konsensus etika publikasi saat ini: AI tidak boleh dicantumkan sebagai penulis karena tidak dapat memikul tanggung jawab akademik, dan penggunaannya untuk membantu penulisan wajib diungkapkan pada bagian pernyataan. Penggunaan AI untuk mengarang data, referensi, atau hasil penelitian adalah pelanggaran serius. Baca kebijakan AI jurnal tujuan Anda sebelum submit.
Kenapa artikel saya ditolak padahal isinya sudah lengkap?
Kelengkapan isi hanya sebagian dari cara menulis jurnal ilmiah yang benar. Alasan paling umum bukan kualitas isi, melainkan ketidaksesuaian ruang lingkup (out of scope) dan format yang tidak mengikuti template jurnal. Keduanya membuat naskah ditolak di meja editor sebelum sampai ke reviewer. Penyebab lain yang sering muncul adalah kebaruan yang tidak dinyatakan eksplisit, metode yang tidak dapat direplikasi, dan referensi yang terlalu tua.
Bagaimana memastikan jurnal tujuan bukan jurnal predator?
Ini bagian dari cara menulis jurnal ilmiah yang sering diabaikan. Periksa status akreditasinya langsung di portal SINTA (sinta.kemdiktisaintek.go.id) untuk jurnal nasional, dan di daftar sumber resmi Scopus atau Scimago untuk jurnal internasional. Waspadai tanda bahaya seperti janji terbit dalam hitungan hari, permintaan biaya sebelum ada keputusan editorial, alamat redaksi yang tidak jelas, dan surel penawaran massal yang menyanjung berlebihan.
Apakah artikel dari skripsi atau tesis bisa langsung dikirim ke jurnal?
Tidak bisa langsung, karena cara menulis jurnal ilmiah berbeda dari cara menulis skripsi. Skripsi dan tesis ditulis untuk membuktikan kompetensi kepada penguji sehingga bersifat sangat panjang dan deskriptif, sementara artikel jurnal ditulis untuk menyampaikan satu kontribusi baru kepada komunitas ilmiah secara padat. Naskah perlu ditulis ulang: satu pertanyaan penelitian utama, teori dipangkas drastis, dan pembahasan diperdalam.
Mahasiswa Ekonomi Syariah yg memiliki passion di bidang digital marketing, SEO, publikasi ilmiah, content writing, dan pengembangan bisnis.
Nomor WhatsApp resmi Pusat Publikasi hanya satu: +62 813-1022-184.
Jangan mudah percaya pada pihak yang mengatasnamakan Pusat Publikasi.